DUKUNGAN BRIN DALAM MELAKUKAN VERIFIKASI, VALIDASI DAN PENYEMPURNAAN MINI GASIFIKASI COMESTOARRA.
Jakarta - Jum’at, 12 Juni 2026, perusahaan rintisan dan Usaha Kecil Menengah (UKM) PT Comestoarra Bentarra Noesantarra (comestoarra) menandatangani Perjanjian Kerja Sama tentang “Riset dan Pengembangan Teknologi Gasifikasi untuk Produksi Bioenergi“ dengan Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar, Organisasi Riset Energi dan Manufaktur, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Perjanjian kerja sama ini dilakukan atas dasar Nota Kesepahaman antara Badan Riset dan Inovasi Nasional dan PT Comestoarra Bentarra Noesantarra tentang “Riset dan Inovasi, serta Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi di Bidang Teknologi Informasi, Energi Baru dan Terbarukan, serta Waste Management dan Waste to Energy” tanggal 3 Oktober 2025. Perjanjian Kerja Sama ditandatangani oleh Jan Setiawan selaku Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar, Organisasi Riset Energi dan Manufaktur, Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Arief Noerhidayat sebagai pimpinan dari comestoarra.
Penandatanganan Kerja Sama disaksikan langsung oleh Anggota Dewan Energi Nasional dari Kalangan Teknologi, Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc (Unggul); Direktur Energi Baru, Direktorat Jenderal EBTKE, Ir. Senda Hurmuzan Kanam, M.Sc. (Senda) , mewakili Direktur Jenderal EBTKE; dan Ketua Umum Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), Dr. Ir. Milton Pakpahan, MM., CERG.(Milton), dan Ketua Pengurus Yayasan Dana Mitra Lingkungan, Ir. Nina Meilina Rizal, MBA (Nina). Perjanjian Kerja Sama tersebut juga dihadiri oleh mitra strategis comestoarra, di antaranya Kementerian Koperasi, PT PLN Indonesia Power, Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Himpunan Ahli Pembangkit, dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia.

Dalam sambutannya, Milton mengapresiasi langkah comestoarra yang telah berjuang secara konsisten dalam pengembangan energi terbarukan. “Sebagai mentor comestoarra, Saya bangga bahwa ada tim anak muda yang keluar dari zona nyaman, untuk mengembangkan teknologi untuk kepentingan masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan”, ujar Milton.
Milton menceritakan bahwa pada saat COVID-19 melanda Indonesia, comestoarra menghadapi wabah tersebut dengan perjuangan yang di luar nalar.”Comestoarra menuju kabupaten Ende menggunakan mobil, dan menempuh perjalanan selama sepuluh hari. Tapi dari kondisi tersebut, comestoarra berhasil membuat suatu inovasi kompor biomassa dan berkontribusi pada program co-firing di Indonesia”.
Milton melanjutkan bahwa inovasinya tidak berhenti, tapi malah fokus pada penyediaan energi skala komunal dengan mengembangkan teknologi mini gasifikasi. “Yang membuat saya kagum adalah, bagaimana Arief yang bukan orang teknik, bisa memikirkan skema hibrida antara energi berbasis biomassa dan matahari sehingga melahirkan konsep Distributed Hybrid Renewable Energy for Community Solutions?”


Unggul yang pernah memimpin Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan bahwa teknologi gasifikasi mulai dikembangkan oleh Indonesia sejak tahun 70-an. Secara teknis, teknologi ini adalah teknologi yang umum dan proven. Namun yang membuatnya menjadi istimewa adalah konsep portable dan skema hibrida yang dikembangkan oleh comestoarra. Selain itu, gasifikasi yang saat itu fokus ke energi listrik, difungsikan oleh comestoarra sebagai substitusi gas LPG untuk memasak.
“Sebagai anggota Dewan Energi Nasional, saya berharap apa yang menjadi bagian kerja sama antara comestoarra dan BRIN dapat menjadi solusi untuk Indonesia. Yang paling penting adalah, mini gasifier ini harus bisa dibuat dan di replikasi oleh industri lokal,” ujar Unggul setelah melihat mini gasifier comestoarra di fasilitas pengolahan sampah organik dan/atau residu biomassa menjadi bahan bakar terbarukan padat (Center of Excellence TOSS & DHYRECS), Bakso Lapangan Tembak Senayan cabang Setiabudi.
Senda yang mewakili Direktur Jenderal EBTKE menyatakan akan mendukung kerja sama ini , khususnya terkait dengan regulasi. “Saat ini , direktorat energi baru membidangi waste to energy. Tentu kerja sama ini adalah solusi permasalahan sampah di Indonesia dan juga menjadi energi baru yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Selain itu, konsep hibrida dengan panel surya juga dapat mendukung program 100 GW pemerintah”, ujar Senda degan penuh keyakinan.

Kehadiran Negara dalam Mendukung Karya Anak Bangsa
Perjanjian Kerja Sama ini membuktikan bahwa negara hadir dalam mendukung inovasi dan karya anak bangsa di bidang teknologi. BRIN akan menyempurnakan mini gasifier comestoarra sehingga bisa menjadi produk nasional. Mini gasifier yang dikembangkan oleh comestoarra berawal dari keikutsertaan Arief Noerhidayat pada ajang Australia Award Indonesia 2018. Arief terpilih pada ajang tersebut karena mengusulkan konsep pengolahan sampah organik dan/atau residu biomassa menjadi bahan bakar terbarukan padat (pelet) dan pemanfaatannya menjadi energi. Ide dari mini gasifikasi ini adalah bagaimana melakukan konversi pelet sebagai substitusi bahan bakar minyak pada generator listrik sehingga bisa berkontribusi pada program dediselisasi yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia, khususnya di wilayah terpencil dan kepulauan.
Dalam perkembangannya, mini gasifier ini terus dilakukan perbaikan. Pada tahun 2023, comestoarra mendapatkan dukungan dari PT Pupuk Sriwidjaja Palembang untuk membuat inovasi perahu listrik dengan pengisian daya baterai yang berasal dari 100 persen energi terbarukan. Mengingat kapasitas mini gasifier hanya mampu memproduksi listrik sebesar 5 kilowatt, maka comestoarra melakukan integrasi mini gasifier tersebut dengan panel surya. Energi listrik yang dihasilkan dari proses konversi pelet melalui mini gasifier yang dikembangkan comestoarra disimpan di dalam baterai untuk kemudian dialirkan ke jaringan listrik pengguna.
Sebelumnya, comestoarra dikenal sebagai pengembang Teknologi Olah Sampah di Sumbernya (TOSS). Kedua inovasi tersebut telah memiliki detailed engineering design yang dipublikasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (saat ini Kementerian Lingkungan Hidup) pada 2021 dan diperbaharui pada 2023. Salah satu pengembangan inovasi TOSS dan DHYRECS adalah perahu listrik.

Kerja sama antara BRIN dan comestoarra digagas oleh Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo yang saat itu adalah Dewan Pembina Center for Technology and Innovation Studies CTIS. Pada 26 Februari 2025, comestoarra mendapatkan kesempatan menjadi narasumber pada Diskusi Publik (CTIS) bertajuk “Perahu Listrik untuk Wilayah Perairan Indonesia”. Setelah pelaksanaan kegiatan tersebut, Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo merekomendasikan comestoarra untuk mempresentasikan inovasi perahu listrik dan pengisian daya batarai dengan konsep hibrida antara energi berbasis biomassa dan panel surya. Akhirnya pada Kamis, 6 Maret 2025, comestoarra melakukan audiensi kepada BRIN dan mempresentasikan inovasi yang telah dikembangkan kepada Wakil Kepala BRIN, Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, M.Sc., DESD., ASEAN Eng dan tim BRIN. Selanjutnya, pada 3 Oktober 2025 BRIN dan comestoarra melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman. Sebagai tindak lanjut, Nota Kesepahaman tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama yang dilakukan pada Jumat, 12 Juni 2026. (Oleh: Tim Bidang Komunikasi & Kebijakan Publik)